Posisi geografis Jepang sering dibahas, tetapi sebagian besar analisis berhenti pada label “negara kepulauan”. Padahal, dari sudut pandang ekspansi kekuatan besar Barat pada abad ke-19, Jepang berada di pinggiran Eurasia. Letak ini memainkan peran kunci pada periode sejarah tertentu.
Ketika Inggris mulai berekspansi ke timur dari India, perhatian mereka pertama-tama tertuju pada Dinasti Qing yang kaya sumber daya. Jepang bukan target utama. Keberadaan Qing secara objektif menjadi tameng bagi Jepang sehingga tidak lebih awal menanggung hantaman terkeras kekuatan Eropa. Jepang memanfaatkan waktu itu untuk mengamati kemunduran Qing dan menyesuaikan strateginya.
Posisi pinggiran yang memberi bantalan
Rute ekspansi Inggris di Asia bergerak terus ke timur. India, yang paling dekat dengan Eropa, lebih dulu menjadi koloni. Kapal perang lalu melanjutkan perjalanan ke timur dan akhirnya mengarah ke Qing. Dibandingkan Jepang yang lemah, Qing jelas lebih menarik. Cendekiawan Jepang Noro Eitaro dalam “Sejarah Perkembangan Kapitalisme Jepang” menyebut revolusi industri yang dimulai dari Inggris, negara terjauh dari Jepang, sebagai keberuntungan besar bagi Jepang. Jarak geografis ini ditambah “tabir” Qing memberi Jepang ruang bernapas yang langka pada awal benturan peradaban Timur dan Barat.
Jendela waktu untuk mengamati dan belajar
Jepang tidak hanya lolos dari invasi terkeras. Jepang juga dapat mengamati dari dekat kemunduran Qing di bawah tekanan kekuatan besar. Pengamatan ini memberi Jepang waktu dan inisiatif berharga untuk menyesuaikan strategi nasional. Setelah Fukuzawa Yukichi mengajukan slogan “keluar dari Asia, masuk Eropa” pada 1885, Jepang secara jelas menjadikan mengikuti negara terkuat di dunia sebagai inti diplomasinya. Beraliansi dengan Inggris menjadi target utama.
Dasar geopolitik kebijakan aliansi
Huntington pernah menilai Jepang selalu mengambil kebijakan mengikuti kekuatan dominan sejak masuk panggung internasional. Pada 1978, Partai Demokrat Liberal Jepang dalam penjelasan kebijakan keamanan komprehensif merangkumnya lebih gamblang: rahasia aliansi adalah tidak bergabung dengan aliansi pihak lemah, melainkan bersekutu dengan pihak kuat. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Inggris adalah kekuatan nomor satu dunia. Aliansi Jepang-Inggris dibangun di atas logika ini. Jepang membelakangi Samudra Pasifik, berdekatan dengan daratan Tiongkok, dan berada di pinggiran Timur Jauh. Kondisi geografis unik ini memungkinkan Jepang memanfaatkan kekuatan pihak lain dalam pertarungan antar kekuatan besar.
Titik balik minat Inggris
Sikap Inggris terhadap Jepang tidak serta-merta positif. Sebelum 1852, Kementerian Luar Negeri Inggris tidak tertarik pada Jepang, dan para pedagang juga kurang antusias berdagang dengan Jepang. Titik balik terjadi selama Perang Krimea. Setelah Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Rusia pada Maret 1854, mereka khawatir armada Pasifik Rusia mengancam Hong Kong dan jalur pelayaran Asia Tenggara. Mereka memutuskan menyerang lebih dulu dan menghancurkan posisi Rusia di Kamchatka dan pesisir Laut Okhotsk. Pada Agustus hingga September, pasukan gabungan Inggris-Prancis mengerahkan 6 kapal perang, 200 meriam, dan 2.000 tentara untuk menyerang Petropavlovsk yang dijaga 800 orang dan 66 meriam. Namun, komandan pasukan gabungan, Laksamana Muda Price, mengalami gangguan mental dan bunuh diri pada hari pertama pertempuran. Dua pendaratan berikutnya berhasil dipukul mundur, dan pasukan gabungan terpaksa mundur. Peristiwa ini mendorong Inggris menilai ulang nilai strategis Jepang di Timur Jauh.
Posisi geografis Jepang bukan sekadar “keuntungan” atau “kerugian”. Posisi itu adalah kombinasi sejumlah kondisi dalam situasi sejarah tertentu. Letak ini memberi bantalan, tetapi juga membawa ketergantungan. Ketika tatanan internasional berubah, apakah logika geopolitik ini masih berlaku perlu diamati lebih lanjut.
Sumber: Zhihu https://www.zhihu.com/question/28094967/answer/2098423564500320432?utm_medium=openapi_platform&utm_source=b38f6831b176
0 条评论
还没有评论,写下第一条。